Maniani, Yufreiser (2007) PENYEBAB KETIDAKTERATURAN MINUM OBAT PADA PENDERITA TB-PARU DI PUSKESMAS KOTARAJA TAHUN 2007. Diploma thesis, Politeknik Kesehatan Jayapura.
YUFREISER MANIANI.pdf
Download (14MB)
Abstract
Penyakit ini merupakan pembunuh kedua setelah penyakit kardiovaskuler. Setiap tahun diperkirakan tidak kurang dari 450.000 kasus penyakit TB-Paru terjadi di Indonesia dengan jumlah kematian sekitar 175.000 atau 38,8%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, jarak tempat tinggal ke tempat pelayanan kesehatan dan dukungan keluarga terhadap ketidakteraturan minum obat pada penderita TB-Paru. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan retrospektif.
Hasil penelitian tentang pengetahuan penderita TB-Paru di wilayah kerja Puskesmas Kotaraja menunjukkan bahwa dari 28 penderita TB-Paru, didapatkan 16 orang (57,14%) berpengetahuan baik, sedangkan 12 orang (42,86%) berpengetahuan sedang. Dari 28 responden yang diteliti, 21 responden (75%) bersikap baik, dan 7 responden (25%) bersikap sedang. Dari 28 responden, 22 responden (78,57%) tempat tinggalnya jauh dari tempat pelayanan kesehatan, sedangkan 6 responden (21,43%) tempat tinggalnya berdekatan dengan tempat pelayanan kesehatan. Penelitian ini menunjukkan pula bahwa dari 28 responden, 26 responden (92,85%) mendapat dukungan dari keluarga, sedangkan 2 responden (7,15%) tidak mendapat dukungan dari keluarganya.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap penderita TB-Paru yang drop out minum obat di wilayah kerja Puskesmas Kotaraja sebagian besar menunjukkan baik. Sedangkan jarak tempat tinggal penderita TB-Paru yang drop out minum obat di wilayah kerja Puskesmas Kotaraja sebagian besar menunjukkan jauh. Dukungan keluarga yang diberikan kepada penderita TB-Paru yang drop out minum obat di wilayah kerja Puskesmas Kotaraja sebagian besar menunjukkan baik.
Penelitian ini menyarankan bagi pelaksana program TB-Paru agar dapat melakukan peningkatan pelacakan dan pengobatan penderita TB-Paru secara aktif serta terus meningkatkan penyuluhan tentang penyakit TB-Paru secara khususnya penderita TB-Paru agar segera melakukan pengobatan penyakit TB-Paru ke Puskesmas-Puskesmas atau tempat pelayanan kesehatan lainnya karena pengobatan program TB-Paru merupakan program nasional yang dilaksanakan secara gratis. Dan bagi penderita TB-Paru yang putus berobat sebaiknya segera menjalani pengobatan secara rutin, karena TB-Paru merupakan penyakit kronis dan dapat mengakibatkan penderitanya meninggal.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Additional Information: | Penyakit ini merupakan pembunuh kedua setelah penyakit kardiovaskuler. Setiap tahun diperkirakan tidak kurang dari 450.000 kasus penyakit TB-Paru terjadi di Indonesia dengan jumlah kematian sekitar 175.000 atau 38,8%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, jarak tempat tinggal ke tempat pelayanan kesehatan dan dukungan keluarga terhadap ketidakteraturan minum obat pada penderita TB-Paru. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Hasil penelitian tentang pengetahuan penderita TB-Paru di wilayah kerja Puskesmas Kotaraja menunjukkan bahwa dari 28 penderita TB-Paru, didapatkan 16 orang (57,14%) berpengetahuan baik, sedangkan 12 orang (42,86%) berpengetahuan sedang. Dari 28 responden yang diteliti, 21 responden (75%) bersikap baik, dan 7 responden (25%) bersikap sedang. Dari 28 responden, 22 responden (78,57%) tempat tinggalnya jauh dari tempat pelayanan kesehatan, sedangkan 6 responden (21,43%) tempat tinggalnya berdekatan dengan tempat pelayanan kesehatan. Penelitian ini menunjukkan pula bahwa dari 28 responden, 26 responden (92,85%) mendapat dukungan dari keluarga, sedangkan 2 responden (7,15%) tidak mendapat dukungan dari keluarganya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap penderita TB-Paru yang drop out minum obat di wilayah kerja Puskesmas Kotaraja sebagian besar menunjukkan baik. Sedangkan jarak tempat tinggal penderita TB-Paru yang drop out minum obat di wilayah kerja Puskesmas Kotaraja sebagian besar menunjukkan jauh. Dukungan keluarga yang diberikan kepada penderita TB-Paru yang drop out minum obat di wilayah kerja Puskesmas Kotaraja sebagian besar menunjukkan baik. Penelitian ini menyarankan bagi pelaksana program TB-Paru agar dapat melakukan peningkatan pelacakan dan pengobatan penderita TB-Paru secara aktif serta terus meningkatkan penyuluhan tentang penyakit TB-Paru secara khususnya penderita TB-Paru agar segera melakukan pengobatan penyakit TB-Paru ke Puskesmas-Puskesmas atau tempat pelayanan kesehatan lainnya karena pengobatan program TB-Paru merupakan program nasional yang dilaksanakan secara gratis. Dan bagi penderita TB-Paru yang putus berobat sebaiknya segera menjalani pengobatan secara rutin, karena TB-Paru merupakan penyakit kronis dan dapat mengakibatkan penderitanya meninggal. |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) |
| Divisions: | Faculty of Medicine, Health and Life Sciences > School of Biological Sciences |
| Depositing User: | Unnamed user with email info@wanteknologi.com |
| Last Modified: | 02 Feb 2026 15:12 |
| URI: | https://repositoryperpus.poltekkesjayapura.ac.id/id/eprint/1411 |

