Tahapary, Eliya (2000) HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU, PENDAPATAN KELUARGA DENGAN POLA РЕМВЕRIAN AIR SUSU IBU DAN SUSU BOTOL TERHADAP STATUS GIZI PADA BAYI USIA 4- 12 BULAN DI KOMPLEKS PERUMAHAN KOREM 172 WAENA KELURAHAN WAENA KЕСAMATAN ABEPURA KOTA JAYAPURA. Diploma thesis, Politeknik Kesehatan Jayapura.
ELIYA TAHAPARY.pdf
Download (7MB)
Abstract
ASI merupakan makanan yang terbaik dan ideal bagi bayi karena dalam ASI tersebut terkandung sejuta zat gizi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembang sempurna. Pola pemberian ASI kini mengalami berbagai perkombangan, baik menyangkut lama pemberian Asi maupun pola pemberian makanan tambahan. Perubahan tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya kegiatan wanita di luar rumah, menjamurnya industri suan dan gencarnya iklan susu buatan (PASI), alasan kesehatan dan kecantikan sorta pengaruh globalisasi budaya asing atau sebagai gaya hidup.
Dari berbagai data yang diperoleh dikatakan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan ibu dan makin tinggi tingkat pendapatan keluarga makin berkurang persentase bayi yang diberi air susu ibu dan makin banyak bayi diberikan susu formula atau susu botol.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga dengan pola pemberian air susu ibu dan susu botol terhadap statum gizi bayi usia 4-12 bulan.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan bulan September.
Data primer diperoleh langsung dari wawancara berdasakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan yang meliputi tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga dengan pola pemberian air susu ibu dan susu botol serta data antropometri yang meliputi umur, berat badan dan jenis kelamin. Sedangkan data sekunder, mengenai data gambaran
umum kelurahan Waena, data dari puskesmas, buku register dari kader posyandu.
Pada hasil uji slatistik dengan menggumakan X 2 pada derajat kemaknaan a 0,03 menumjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dan pendapatan keluarga dengan status gizi bayi, tapi ditemukan adanya hobungan bermakna
antara pola pemberian air susu ibu dan pola pemberian susu botol dengan status gizi bayi.
Dari hasil uji silang memunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan pola pemberian air susu ibu, dan tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan pola pomborian suu botol. Hal ini berarti dengan meningkanya pendidikan ibu belum monjamin terhadap baiknya pola pemberian air susu ibu dan susu botol.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa penyuluhan gizi masih merupakan intervensi yang tepat dan agar lebih ditingkatkan lagi terutama disarankan agar para ibu dapat menyusui anaknya dan ditekankan untuk tidak menggunakan susu botol bila benar-benar tidak diperuntukan demi meningkatnya status gizi anaknya.
Daftar bacaan: 21 (1983-1997)
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Additional Information: | ASI merupakan makanan yang terbaik dan ideal bagi bayi karena dalam ASI tersebut terkandung sejuta zat gizi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembang sempurna. Pola pemberian ASI kini mengalami berbagai perkombangan, baik menyangkut lama pemberian Asi maupun pola pemberian makanan tambahan. Perubahan tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya kegiatan wanita di luar rumah, menjamurnya industri suan dan gencarnya iklan susu buatan (PASI), alasan kesehatan dan kecantikan sorta pengaruh globalisasi budaya asing atau sebagai gaya hidup. Dari berbagai data yang diperoleh dikatakan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan ibu dan makin tinggi tingkat pendapatan keluarga makin berkurang persentase bayi yang diberi air susu ibu dan makin banyak bayi diberikan susu formula atau susu botol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga dengan pola pemberian air susu ibu dan susu botol terhadap statum gizi bayi usia 4-12 bulan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan bulan September. Data primer diperoleh langsung dari wawancara berdasakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan yang meliputi tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga dengan pola pemberian air susu ibu dan susu botol serta data antropometri yang meliputi umur, berat badan dan jenis kelamin. Sedangkan data sekunder, mengenai data gambaran umum kelurahan Waena, data dari puskesmas, buku register dari kader posyandu. Pada hasil uji slatistik dengan menggumakan X 2 pada derajat kemaknaan a 0,03 menumjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dan pendapatan keluarga dengan status gizi bayi, tapi ditemukan adanya hobungan bermakna antara pola pemberian air susu ibu dan pola pemberian susu botol dengan status gizi bayi. Dari hasil uji silang memunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan pola pemberian air susu ibu, dan tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan pola pomborian suu botol. Hal ini berarti dengan meningkanya pendidikan ibu belum monjamin terhadap baiknya pola pemberian air susu ibu dan susu botol. Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa penyuluhan gizi masih merupakan intervensi yang tepat dan agar lebih ditingkatkan lagi terutama disarankan agar para ibu dapat menyusui anaknya dan ditekankan untuk tidak menggunakan susu botol bila benar-benar tidak diperuntukan demi meningkatnya status gizi anaknya. Daftar bacaan: 21 (1983-1997) |
| Subjects: | R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology |
| Divisions: | Faculty of Medicine, Health and Life Sciences > School of Biological Sciences |
| Depositing User: | Unnamed user with email info@wanteknologi.com |
| Last Modified: | 07 Jan 2026 04:40 |
| URI: | https://repositoryperpus.poltekkesjayapura.ac.id/id/eprint/233 |

