ACHMAD, HASTUTI (2006) PEMANFAATAN TEPUNG AMPAS TAHU SEBAGAI BAHAN CAMPURAN TEPUNG TERIGU DALAM PEMBUATAN COOKIES. Diploma thesis, POLITEKNIK KESEHATAN JAYAPURA.
HASTUTI ACHMAD.pdf
Download (3MB)
Abstract
Ampas tahu adalah sisa penyaringan bubur kedelai dalam pembuatan tahu dan memiliki kandungan zat gizi yang cukup tinggi, karena dalam proses penyaringan bubur kedelai tidak semua zat gizi ikut tersaring. Oleh karena itu pemanfaatan teknologi tepat guna dari ampas tahu dibidang pangan sangat baik. Dalam hal ini peneliti ingin memanfaatkannya sebagai bahan campuran tepung terigu dalam pembuatan cookies dengan membuatnya menjadi tepung terlebih dahulu. Kemudian dibuat menjadi cookies dengan 3 perbandingan. Setelah itu dianalisa kandungan zat gizi tiap kepingnya dan diuji organoleptik terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur serta bagaimana tingkat penerimaan panelis.
Jenis penelitian yang digunakan adalah Kuasi eksperimen, dengan rancangan penelitian One Shot Case Study yaitu 3 kali pengulangan dan 3 kali pengujian. Uji organoleptik yang digunakan adalah uji mutu hedonik dengan 6 skala numerik, yaitu 6. sangat suka, 5. suka, 4. agak suka, 3. netral, 2. agak tidak suka, 1. tidak suka. Data yang telah diperoleh kemudian uji dengan uji Anova. Jika ada beda penerimaan yang nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan.
Setelah dilakukan uji Anova dengan tingkat kesalahan 1% maka dapat diketahui ada perbedaan yang nyata terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur dari cookies tersebut. Untuk warna cookies dengan formula I memilki skor rata-rata 5,1 (suka sangat suka) atau sekitar 82,1%, formula II memiliki skor rata-rata 3,9 (netral-agak suka) atau sekitar 46,45% dan formula III memiliki skor rata-rata 2,8 (agak tidak suka netral) atau sekitar 57,1%. Untuk aroma cookies dengan formula I memilki skor rata-rata 5,1 (suka sangat suka) atau sekitar 75%, formula !! memiliki skor rata-rata 3,4 (netral-agak suka) atau sekitar 57,1% dan formula III memiliki skor rata-rata 1,9 (tidak suka agak tidak suka) atau sekitar 67,9%. Untuk rasa cookies dengan formula I memilki skor rata-rata 5.3 (suka sangat suka) atau sekitar 78,6%, formula II memiliki skor rata-rata 3,8 (netral agak suka) atau sekitar 64,3% dan formula III memiliki skor rata-rata 2,2 (agak tidak suka netral) atau sekitar 67,9%. Sedangkan untuk tekstur cookies dengan formula I memilki skor rata-rata 5,0 (suka sangat suka) atau sekitar 64,3%, formula Il memiliki skor rata-rata 4,1 (agak suka suka) atau sekitar 67,9% dan formula III memiliki skor rata-rata 2,9 (agak tidak suka netral) atau sekitar 39,3%. Dari uji organoleptik yang telah dilakukan diketahui bahwa dari 25 orang panelis, 75% nya mampu menghabiskan cookies dengan formula I dan formula 11.
Daftar bacaan 10 buku (1985-2006)
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Additional Information: | Ampas tahu adalah sisa penyaringan bubur kedelai dalam pembuatan tahu dan memiliki kandungan zat gizi yang cukup tinggi, karena dalam proses penyaringan bubur kedelai tidak semua zat gizi ikut tersaring. Oleh karena itu pemanfaatan teknologi tepat guna dari ampas tahu dibidang pangan sangat baik. Dalam hal ini peneliti ingin memanfaatkannya sebagai bahan campuran tepung terigu dalam pembuatan cookies dengan membuatnya menjadi tepung terlebih dahulu. Kemudian dibuat menjadi cookies dengan 3 perbandingan. Setelah itu dianalisa kandungan zat gizi tiap kepingnya dan diuji organoleptik terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur serta bagaimana tingkat penerimaan panelis. Jenis penelitian yang digunakan adalah Kuasi eksperimen, dengan rancangan penelitian One Shot Case Study yaitu 3 kali pengulangan dan 3 kali pengujian. Uji organoleptik yang digunakan adalah uji mutu hedonik dengan 6 skala numerik, yaitu 6. sangat suka, 5. suka, 4. agak suka, 3. netral, 2. agak tidak suka, 1. tidak suka. Data yang telah diperoleh kemudian uji dengan uji Anova. Jika ada beda penerimaan yang nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Setelah dilakukan uji Anova dengan tingkat kesalahan 1% maka dapat diketahui ada perbedaan yang nyata terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur dari cookies tersebut. Untuk warna cookies dengan formula I memilki skor rata-rata 5,1 (suka sangat suka) atau sekitar 82,1%, formula II memiliki skor rata-rata 3,9 (netral-agak suka) atau sekitar 46,45% dan formula III memiliki skor rata-rata 2,8 (agak tidak suka netral) atau sekitar 57,1%. Untuk aroma cookies dengan formula I memilki skor rata-rata 5,1 (suka sangat suka) atau sekitar 75%, formula !! memiliki skor rata-rata 3,4 (netral-agak suka) atau sekitar 57,1% dan formula III memiliki skor rata-rata 1,9 (tidak suka agak tidak suka) atau sekitar 67,9%. Untuk rasa cookies dengan formula I memilki skor rata-rata 5.3 (suka sangat suka) atau sekitar 78,6%, formula II memiliki skor rata-rata 3,8 (netral agak suka) atau sekitar 64,3% dan formula III memiliki skor rata-rata 2,2 (agak tidak suka netral) atau sekitar 67,9%. Sedangkan untuk tekstur cookies dengan formula I memilki skor rata-rata 5,0 (suka sangat suka) atau sekitar 64,3%, formula Il memiliki skor rata-rata 4,1 (agak suka suka) atau sekitar 67,9% dan formula III memiliki skor rata-rata 2,9 (agak tidak suka netral) atau sekitar 39,3%. Dari uji organoleptik yang telah dilakukan diketahui bahwa dari 25 orang panelis, 75% nya mampu menghabiskan cookies dengan formula I dan formula 11. Daftar bacaan 10 buku (1985-2006) |
| Subjects: | R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology |
| Divisions: | Faculty of Medicine, Health and Life Sciences > School of Biological Sciences |
| Depositing User: | Unnamed user with email admin |
| Last Modified: | 08 Jan 2026 15:56 |
| URI: | https://repositoryperpus.poltekkesjayapura.ac.id/id/eprint/561 |

