SOPLANTILA, ANNA (2001) PENGARUH CAMPURAN BUAH JAMBU MENTE TERHADAP KUALITAS ABON. Diploma thesis, Politeknik Kesehatan Jayapura.

[thumbnail of Skripsi] Text (Skripsi)
ANNA SOPLANTILA.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB)

Abstract

Pengembangan teknologi tepat guna pengolahan pangan merupakan salah satu Intervensi Gizi yang strategis, karena memungkinkan masyarakat memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk mengolah berbagai jenis pangan menjadi suatu jenis pangan yang lebih bergizi.

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini diketahui bahwa campuran buah jambu mente terhadap kualitas abon dengan konsentrasi 20%, 30%, 40% dan 50% dengan berat ikan 250 gram terhadap cita rasa, warna, aroma dan tekstur dari 20 panelis memberi penilaian sebagai berikut:

Berdasarkan uji anova bahwa cita rasa abon dari konsentrasi yang berbeda diketahui bahwa F.Hitung lebih kecil dari F.Tabel yaitu 0,86 < 4,13 pada taraf 1%. maka tidak ada perbedaan yang nyata terhadap perlakuan (Ho) diterima, Jadi tidak perlu dilakukan analisis lanjutan yaitu uji Duncan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan. Sedangkan hasil rata-rata distribusikan pengamatan dari 20 panelis lebih banyak menyukai cita rasa abon dengan konsentrasi 40% dengan penelitian paling tinggi (3,95), dimana semakin tinggi tingkat penilaian maka cita rasa abon ikan semakin disukai.

Dari hasil analisa uji anova bahwa warna abon ikan tidak berbeda nyata yaitu F.Hitung lebih kecil dari F.Tabel yaitu 1,43 < 4,13 pada taraf 1%, maka (Ho) diterima, jadi tidak perlu dilakukan analisis lanjutan yaitu uji Duncan untuk mengetahui perbedaan. Sedangkan hasil rata-rata distribusi pengamatan dari 20 panelis lebih banyak menyukai warna abon dengan konsentrasi 20% dengan penilaian paling tinggi (3,80), dimana semakin tinggi tingkat penilaian maka warna abon ikan semakin disukai.

Hasil analisis uji anova bahwa aroma abon ikan tidak berbeda nyata yaitu F.Hitung lebih kecil dari F.Tabel yaitu 1,45 < 4,13 pada taraf 1%, maka (Ho) diterima, jadi tidak perlu dilakukan analisis lanjutan yaitu uji Duncan untuk mengetahui perbedaan. Sedangkan hasil rata-rata distribusi pengamatan dari 20 panelis lebih banyak menyukai aroma abon dengan konsentrasi 30% dengan penilaian paling tinggi (4,05), dimana semakin tinggi ingkat penilaian maka aroma abon ikan semakin disukai.

Analisis sidik ragam memberikan hasil bahwa tekstur abon ikan tidak berbeda nyata yaitu F.Hitung lebih kecil dari F.Tabel yaitu 0,87 < 4,13 pada taraf 1%, maka (Ho) diterima, jadi tidak perlu dilakukan analisis lanjutan yaitu uji Duncan untuk mengetahui perbedaan. Sedang hasil rata-rata distribusi pengamatan dari 20 panelis lebih banyak menyukai tekstur abon dengan konsentrasi 30% dengan penilaian paling tinggi (3,75), dimana semakin tinggi tingkat penilaian maka tekstur abon ikan semakin disukai.
Bacaan 13 (1987-1995)

Item Type: Thesis (Diploma)
Additional Information: Pengembangan teknologi tepat guna pengolahan pangan merupakan salah satu Intervensi Gizi yang strategis, karena memungkinkan masyarakat memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk mengolah berbagai jenis pangan menjadi suatu jenis pangan yang lebih bergizi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini diketahui bahwa campuran buah jambu mente terhadap kualitas abon dengan konsentrasi 20%, 30%, 40% dan 50% dengan berat ikan 250 gram terhadap cita rasa, warna, aroma dan tekstur dari 20 panelis memberi penilaian sebagai berikut: Berdasarkan uji anova bahwa cita rasa abon dari konsentrasi yang berbeda diketahui bahwa F.Hitung lebih kecil dari F.Tabel yaitu 0,86 < 4,13 pada taraf 1%. maka tidak ada perbedaan yang nyata terhadap perlakuan (Ho) diterima, Jadi tidak perlu dilakukan analisis lanjutan yaitu uji Duncan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan. Sedangkan hasil rata-rata distribusikan pengamatan dari 20 panelis lebih banyak menyukai cita rasa abon dengan konsentrasi 40% dengan penelitian paling tinggi (3,95), dimana semakin tinggi tingkat penilaian maka cita rasa abon ikan semakin disukai. Dari hasil analisa uji anova bahwa warna abon ikan tidak berbeda nyata yaitu F.Hitung lebih kecil dari F.Tabel yaitu 1,43 < 4,13 pada taraf 1%, maka (Ho) diterima, jadi tidak perlu dilakukan analisis lanjutan yaitu uji Duncan untuk mengetahui perbedaan. Sedangkan hasil rata-rata distribusi pengamatan dari 20 panelis lebih banyak menyukai warna abon dengan konsentrasi 20% dengan penilaian paling tinggi (3,80), dimana semakin tinggi tingkat penilaian maka warna abon ikan semakin disukai. Hasil analisis uji anova bahwa aroma abon ikan tidak berbeda nyata yaitu F.Hitung lebih kecil dari F.Tabel yaitu 1,45 < 4,13 pada taraf 1%, maka (Ho) diterima, jadi tidak perlu dilakukan analisis lanjutan yaitu uji Duncan untuk mengetahui perbedaan. Sedangkan hasil rata-rata distribusi pengamatan dari 20 panelis lebih banyak menyukai aroma abon dengan konsentrasi 30% dengan penilaian paling tinggi (4,05), dimana semakin tinggi ingkat penilaian maka aroma abon ikan semakin disukai. Analisis sidik ragam memberikan hasil bahwa tekstur abon ikan tidak berbeda nyata yaitu F.Hitung lebih kecil dari F.Tabel yaitu 0,87 < 4,13 pada taraf 1%, maka (Ho) diterima, jadi tidak perlu dilakukan analisis lanjutan yaitu uji Duncan untuk mengetahui perbedaan. Sedang hasil rata-rata distribusi pengamatan dari 20 panelis lebih banyak menyukai tekstur abon dengan konsentrasi 30% dengan penilaian paling tinggi (3,75), dimana semakin tinggi tingkat penilaian maka tekstur abon ikan semakin disukai. Bacaan 13 (1987-1995)
Subjects: R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology
Divisions: Faculty of Medicine, Health and Life Sciences > School of Biological Sciences
Depositing User: Unnamed user with email info@wanteknologi.com
Last Modified: 14 Jan 2026 06:42
URI: https://repositoryperpus.poltekkesjayapura.ac.id/id/eprint/855

Actions (login required)

View Item
View Item