ARTINAН, BUDI (2001) HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PEMULIHAN DENGAN BERAT BADAN BADUTA KЕР DI WILAYAH PUSKESMAS SENTANI TAHUN 2001. Diploma thesis, Politeknik Kesehatan Jayapura.
BUDI ARTINAH.pdf
Restricted to Registered users only
Download (33MB)
Abstract
Di Indonesia masalah gizi kurang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat, terutama pada anak yang merupakan golongan rentan terhadap penyakit akibat kekurangan gizi, sehingga perlu pengawasan yang ketat. Faktor penyebab kasus gizi buruk akhir-akhir ini adalah masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan gizi balita. Disamping konsumsi sehari-hari menyebabkan melemahnya daya tahan tubuh terhadap infeksi.
Dengan meningkatnya kasus gizi buruk akhir-akhir ini, maka salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan gizi adalah melalui pemberian makanan tambahan. Intervensi gizi melalui pemberian makanan tambahan (food based intervention) khusus kepada keluarga rawan gizi akan menjadi intervensi utama.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian makanan tambahan pemulihan dengan berat badan baduta KEP. Serta mengetahui hubungan antara frekuensi PMT-Pemulihan, komposisi energi dan protein PMT-Pemulihan dan asupan gizi dengan berat badan baduta di Wilayah Puskesmas Sentani.
umlah sampel yang diambil adalah keseluruhan baduta yang menderita KEP berat yang mendapat PMT-Pemulihan selama 90 hari sebanyak 39 baduta (total sample). Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2001 minggu keempat sampai bulan Agustus 2001 minggu keempat. Data primer yang diperoleh adalah dengan penimbangan berat badan baduta dan wawancara secara langsung yang berdasarkan quisioner yang sudah disediakan yang meliputi quisioner tentang frekuensi PMTPemulihan, komposisi energi dan protein PMT-Pemulihan. Bentuk PMT-Pemulihan dan asupan gizi baduta diambil dengan cara repeated recall 1 x 24 jam selama 3 (tiga) hari. Data yang dikumpulkan secara deskriptif dan analitik.
Dari 39 responden yang diobservasi, terdapat 30 (76,9%) responden
mempunyai berat badan baik (ada kenaikan). Sedangkan 9 (23,1 %) responden mempunyai berat badan kurang. Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara frekuensi PMT-Pemulihan, komposisi energi dan protein PMT-Pemulihan, serta asupan gizi dengan berat badan baduta. Program PMTPemulihan bagi baduta di wilayah puskesmas perlu berlanjut dan perlu adanya perubahan dalam hal jenis/bentuk PMT-Pemulihan yang diberikan, terutama untuk anak yang berumur 12 - 24 bulan misalnya, berapa jajanan dari bahan makanan setempat.
Daftar Bacaan: 22 (1980 – 2001)
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Additional Information: | Di Indonesia masalah gizi kurang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat, terutama pada anak yang merupakan golongan rentan terhadap penyakit akibat kekurangan gizi, sehingga perlu pengawasan yang ketat. Faktor penyebab kasus gizi buruk akhir-akhir ini adalah masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan gizi balita. Disamping konsumsi sehari-hari menyebabkan melemahnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. Dengan meningkatnya kasus gizi buruk akhir-akhir ini, maka salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan gizi adalah melalui pemberian makanan tambahan. Intervensi gizi melalui pemberian makanan tambahan (food based intervention) khusus kepada keluarga rawan gizi akan menjadi intervensi utama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian makanan tambahan pemulihan dengan berat badan baduta KEP. Serta mengetahui hubungan antara frekuensi PMT-Pemulihan, komposisi energi dan protein PMT-Pemulihan dan asupan gizi dengan berat badan baduta di Wilayah Puskesmas Sentani. umlah sampel yang diambil adalah keseluruhan baduta yang menderita KEP berat yang mendapat PMT-Pemulihan selama 90 hari sebanyak 39 baduta (total sample). Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2001 minggu keempat sampai bulan Agustus 2001 minggu keempat. Data primer yang diperoleh adalah dengan penimbangan berat badan baduta dan wawancara secara langsung yang berdasarkan quisioner yang sudah disediakan yang meliputi quisioner tentang frekuensi PMTPemulihan, komposisi energi dan protein PMT-Pemulihan. Bentuk PMT-Pemulihan dan asupan gizi baduta diambil dengan cara repeated recall 1 x 24 jam selama 3 (tiga) hari. Data yang dikumpulkan secara deskriptif dan analitik. Dari 39 responden yang diobservasi, terdapat 30 (76,9%) responden mempunyai berat badan baik (ada kenaikan). Sedangkan 9 (23,1 %) responden mempunyai berat badan kurang. Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara frekuensi PMT-Pemulihan, komposisi energi dan protein PMT-Pemulihan, serta asupan gizi dengan berat badan baduta. Program PMTPemulihan bagi baduta di wilayah puskesmas perlu berlanjut dan perlu adanya perubahan dalam hal jenis/bentuk PMT-Pemulihan yang diberikan, terutama untuk anak yang berumur 12 - 24 bulan misalnya, berapa jajanan dari bahan makanan setempat. Daftar Bacaan: 22 (1980 – 2001) |
| Subjects: | R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology |
| Divisions: | Faculty of Medicine, Health and Life Sciences > School of Biological Sciences |
| Depositing User: | Unnamed user with email info@wanteknologi.com |
| Last Modified: | 14 Jan 2026 06:50 |
| URI: | https://repositoryperpus.poltekkesjayapura.ac.id/id/eprint/857 |

